Beranda Gaya Hidup Ingat Ini Saat Galau dan Lelah Mencari Rezeki

Ingat Ini Saat Galau dan Lelah Mencari Rezeki

25
0


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konsep rezeki menurut Islam sangatlah luas. Rezeki adalah segala karunia Allah SWT yang dipakai untuk memelihara kehidupan.

Karena itu, ia hadir dalam berbagai bentuk. Bukan hanya sesuatu yang kuantitatif atau terukur, semisal uang. Pemberian dari-Nya dirasakan pula dalam nikmat sehat dan ketenteraman hati. Wujudnya pun bisa berupa lingkungan yang kondusif untuk diri menjalankan ibadah sehari-hari.

Menurut Syekh Muhammad Mutawwalli Sya’rawi, dalam kitabnya, Tilka Hiya al-Arzaqrezeki terbagi ke dalam dua hal, yakni yang halal dan haram. Perbedaan antara keduanya sangat jelas.

Manfaat rezeki haram tidak bertahan lama. Nikmat darinya akan habis dalam waktu sekejap. Adapun rezeki yang halal menimbulkan keberkahan dalam hidup walau tidak bisa diukur secara kuantitatif.

Islam mengajarkan umat manusia untuk berusaha, bukan berpangku tangan. Hal yang sama juga berlaku dalam hal mencari nafkah. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Salah seorang di antara kalian membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lebih baik baginya daripada meminta sesuatu kepada seseorang lalu memberinya sesuatu atau menahannya.

“Salah satu diantara kalian yang membawa kayu bakar di punggungnya lebih baik dari pada dia meminta kepada seseorang, diberikan atau ditolak.” (HR Bukhari).

Hadis di atas mengisyaratkan kepada kaum Muslimin agar jangan menyerah dalam mencari nafkah.

Meski upaya yang dilakukan terkesan sepele di mata masyarakat umum, namun halal tidak menjadi persoalan. Bekerja dalam rangka penghidupan duniawi merupakan amalan yang mulia di mata Allah SWT.

Sedangkan dalam hadits lain Nabi SAW bersabda sebagai berikut:

Barang siapa yang melakukan pekerjaan tangannya pada malam hari, maka ia akan diampuni.

“Siapa pun yang pada waktu sore merasa lelah karena mencari nafkah, pada saat itu dosanya diampuni” (HR At-Thabrani)

Bagi setiap Mukmin, hadis tersebut dapat menjadi motivasi untuk pantang menyerah dalam berusaha. Hal itu pun menjadi penyemangat, terlebih ketika motivasi duniawi dirasa sedang lesu.

Betapapun besar prestise sebuah pekerjaan, yang terpenting adalah kehalalan. Demikian pula, penghasilan “sekecil” apa pun, apabila diperoleh melalui jalan yang halal, maka itulah sebuah kebanggaan.

Islam memberi tuntunan, mencari nafkah harus dilakukan dengan cara yang baik. Umat ​​Islam dilarang memperoleh penghasilan melalui cara-cara palsu dan menindas orang lain. Tugas kita adalah mengumpulkan rezeki dan menyandarkannya, menyerahkan hasil ikhtiar kita kepada Allah SWT Yang Maha Pemelihara rezeki.

Dan tidak ada makhluk hidup apa pun di muka bumi yang kecuali telah disediakan rezeki oleh Allah, dan Dia mengetahui tempat peristirahatannya dan kandangnya, segala sesuatunya ada dalam kitab yang jelas.

“Dan tidak ada satupun binatang di muka bumi kecuali Allah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui di mana binatang itu berdiam dan di mana ia disimpan. Segala sesuatunya tertulis dalam Kitab nyata (Lauh mahfuzh)” (QS Hud: 6).

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh ciptaan-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu optimis. Tidak perlu khawatir.

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari tempat yang tidak disangkanya…

“…Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangkanya.” (QS at-Talaq ayat 2-3).





Source link