Beranda Gaya Hidup Rumus untuk Umur Panjang dan Berkah

Rumus untuk Umur Panjang dan Berkah

24
0


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Masa produktif umur manusia tak lebih dari 23 tahun. Jika seseorang berumur 60 tahun, sepertiganya dipergunakan untuk tidur, jika setiap harinya tidur selama delapan jam.

Lima belas tahun adalah masa anak-anak, puber, dan masa penyesuaian sehingga menyisakan 25 tahun. Itu pun masih harus dikurangi waktu untuk makan, buang hajat, dan lainnya, menghabiskan dua jam setiap hari. Jika ditotal, akan menghabiskan dua tahun.

Maka, sisanya 23 tahun, inilah masa yang meski diberdayakan sehingga menghasilkan berbagai kebaikan. Seseorang bisa berumur panjang (secara kualitas) meskipun usianya pendek dan bisa berumur pendek (karena tidak produktif) meskipun usia hidupnya panjang. Semua itu tergantung dari kualitas amal dan kecerdasan dalam memanfaatkan waktu dan kesempatan.

Sebab, kebanyakan manusia itu menyia-nyiakan waktu dan kesempatan dalam hidup. Nabi SAW bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR Bukhari).

Masalah terbesar bagi manusia adalah keterbatasan usia. Sekalipun seseorang banyak melakukan amal shaleh, ia tetap tidak akan mampu menandingi umur (umur) orang sebelumnya. Nabi SAW bersabda, “Umur umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Sangat sedikit di antara mereka yang lebih tua dari itu” (HR Tirmidzi).

Muhammad bin Ibrahim Annaim dalam bukunya yang berjudul Kaifa Tuthilu Umraka memberikan rumus beberapa upaya memperpanjang hidup menjadi berkualitas dan penuh berkah.

Pertama, sambungkan tali persahabatan. Nabi SAW bersabda, “Persahabatan, akhlak yang baik, dan berbuat baik kepada sesama dapat menyemarakkan desa dan memanjangkan umur” (HR Ahmad dan Baihaki).

Dalam hadits lain, “Barangsiapa ingin meluaskan rezekinya dan memanjangkan hidupnya, hendaknya menyambungkan tali silaturahmi” (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, melakukan amalan yang pahalanya berlipat ganda. Nabi SAW bersabda, “Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian 27 derajat” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, “Barangsiapa yang pergi ke masjid tanpa ada keinginan kecuali untuk mempelajari sesuatu yang baik atau mengajarkannya, maka ia mendapat pahala yang sama dengan orang yang menunaikan haji dengan menuntaskan hajinya” (HR Thabrani).

Ketiga, melakukan amalan yang pahalanya terus mengalir meski seseorang telah meninggal dunia. Nabi SAW bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya” (HR Muslim).

Dengan demikian, jika seseorang dapat memanfaatkan waktu dan kesempatan secara baik, dengan melakukan berbagai amalan yang pahalanya terus mengalir meski telah meninggal dunia, maka seakan usianya memanjang karena keberkahannya.

sumber : Hikmah Republika oleh Imam Nur Suharno





Source link