Beranda Gaya Hidup Sosok Pendiri Turki Utsmaniyah dan Pesannya yang Mengharukan

Sosok Pendiri Turki Utsmaniyah dan Pesannya yang Mengharukan

25
0


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam buku Bangkit dan Runtuhnya Khilafah UtsmaniyahProf Ali Muhammad ash-Shalabi melukiskan sosok Osman Ghazi, sang pendiri Dinasti Turki Utsmaniyah. Tokoh yang wafat pada tahun 1323 M ini digambarkan sebagai seorang pemimpin yang saleh.

Osman Ghazi dekat dengan kaum ulama. Seorang sufi, Syekh Edebali, merupakan guru dan sekaligus mertuanya.

Mursyid tarekat itu memberikan kepadanya sebilah pedang. Senjata tersebut menyimbolkan bahwa kekuasaan merupakan amanah dari Allah SWT.

Karena itu, pemerintahan yang diselenggarakannya mesti selaras dengan syariat agama. Hingga abad ke-16 M, Pedang Osman menjadi tradisi yang selalu dilakukan kalangan istana Utsmaniyah tiap momen pengangkatan raja baru.

Osman juga pernah bermimpi mendapatkan sinar terang. Sang syekh menakwilkan mimpi itu bahwa menantunya ini kelak akan memperoleh kekuasaan yang besar.

Menjelang wafatnya, Osman memberikan banyak nasihat kebajikan kepada putra-putranya. Seperti dirangkum ash-Shalabi dari Mas’at Bani Utsmanberikut ini beberapa petuah bijak dari sang peletak fondasi Dinasti Utsmaniyah.

“Sesungguhnya aku akan hijrah ke hadirat Tuhan. Saya akan sangat bangga jika anda menjadi sosok yang adil terhadap umat, berjuang di jalan Allah, dan menyebarkan ajaran Islam.

Wahai anak-anakku! Aku perintahkan kamu untuk dekat dengan para ulama. Perhatikan mereka. Hormati mereka. Selalu berkonsultasi dengan mereka. Sebab, para ulama tidak akan pernah memerintahkan kecuali untuk kebaikan.

Ketahuilah, wahai anak-anakku, bahwa jalan kita satu-satunya di dunia ini adalah jalan Allah. Tujuan kita satu-satunya adalah menyebarkan agama Allah. Kita bukanlah orang yang mencari kedudukan dan dunia.”

Menurut ash-Shalabi, pesan-pesan itulah yang menjiwai tekad para penguasa Utsmaniyah, khususnya dalam periode awal dinasti Turk tersebut. Karena itu, mereka amat memperhatikan pembangunan peradaban Islam.

Para sultan Turki berambisi mewujudkan sabda Nabi Muhammad SAW tentang penaklukan Konstantinopel. Berabad-abad yang lalu, Nabi SAW pernah ditanya oleh para sahabatnya, Mana yang lebih dulu jatuh ke tangan umat Islam, Konstantinopel atau Roma? Maka dia menjawab, “Kota Heraclius (Konstantinopel).”

Nabi SAW juga menegaskan bahwa pemimpin terbaik adalah mereka yang memimpin penaklukan Konstantinopel; tim terbaik adalah tim yang menaklukkan kota.

Hingga akhir hayatnya, Osman bahkan tidak pernah menyaksikan jatuhnya Konstantinopel ke tangan umat Islam. Baru pada pertengahan abad ke-16 M, nubuatan Nabi Muhammad SAW terbukti benar adanya.

Seorang keturunan Osman Ghazi, yakni Mehmed II, berhasil memimpin pasukan Utsmaniyah dan menguasai Konstantinopel. Dengan menerapkan strategi yang brilian serta upaya-upaya yang pantang menyerah, dia dapat memasuki jantung Romawi Timur itu pada 29 Mei 1453 M.

Beberapa dekade kemudian, Turki Utsmaniyah resmi berstatus kekhalifahan. Ini setelah raja Utsmaniyah saat itu dapat mengendalikan pemerintahan atas tiga tanah suci Muslim: Makkah, Madinah, dan Baitul Madis. Demikianlah, Impian Osman terwujud.





Source link